Home Articles Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat

Untuk sukses kita harus punya cinta, yakni cinta tanpa syarat

Ada seorang pemuda yang telah dikirim menjadi prajurit dalam sebuah peperangan. Setelah sekian lama bertempur di medan perang, pemuda itu, akhirnya, diperbolehkan pulang. Sebelum kembali ke kampung halamannya, ia menelepon terlebih dulu kepada kedua orang tuanya.

“Ibu, Ayah, aku sedang menuju pulang. Tapi, sebelum sampai, aku ingin menanyakan dulu satu hal. Aku punya seorang teman yang ingin kubawa pulang bersamaku. Bolehkah?”

“Tentu” jawab kedua orang tua sang pemuda, “Kami akan senang bertemu dengan temanmu itu”.

“Tapi ada satu yang harus Ibu dan Ayah tahu”, lanjut pemuda. “Temanku ini sedang terluka akibat perang, Ia kehilangan satu tangan dan satu kakinya. Ia tak tahu kemana harus pulang, dan aku ingin dia tinggal bersama kita”.

“Oh kasihan sekali”, ujar kedua orang tuanya. “Mungkin kita bisa mencarikannya suatu tempat untuk tinggal”.

“Tidak, Ibu, Ayah, aku ingin dia tinggal bersama kita”.

“Anakku”, ujar sang ayah, “kamu tak tahu apa yang sedang kamu minta. Seseorang yang cacat akan menjadi beban untuk kita. Kita punya kehidupan sendiri, dan suatu seperti ini tidak bisa mencampuri kehidupan kita. Menurut ayah, sebaiknya kamu pulang saja dan lupakan tentang temanmu itu. Ia pasti akan menemukan cara sendiri untuk hidup”.

Sang pemuda lama terdiam. Lalu ia menutup telepon. Beberapa hari kemudian, Ayah dan Ibunya meendapat kabar dari pihak kepolisian, bahwa seorang pemuda telah bunuh diri dengan cara melompat dari sebuah puncak gedung. Dari identitasnya diketahui bahwa si pemuda adalah anak lelaki mereka.

Denga sedih, kedua orang tua itu datang ke tempat kejadian bunuh diri untuk memastikan. Saat dibawa ke tempat jenazah terbaring, kedua orang tua itu yakin bahwa jenazah itu benar-benar putera mereka. Namun yang membuat mereka terkejut adalah: jenazah itu hanya memiliki satu tangan dan satu kaki.

Teman, berapa banyak kata cinta yang anda dengar dalam sehari. Di majalah, di buku-buku di senetron televisi, di tempat umum, di rumah di dalam diary, begitu sering kata cinta terbaca, terdengar atau tak sengaja melintas kuping kita.

Berapa banyak orang yang anda kenal yang gampang mengatakan cinta? Mudah saja seorang ibu bilang cinta pada anak yang lucu menggemaskan. Mudah saja seorang bos bilang cinta pada anak buah yang produktif dan kinerjanya baik

Tapi, apakah seorang ibu masih akan cinta jika anaknya tak lagi manis dan taat? Apakah seorang pimpinan masih akan cinta saat anak buahnya malas dan mengecewakan?

Seringkali kita hanya mau mencintai dan hidup bersama dengan orang yang sempurna di mata kita, cantik, tampan, pintar, sehat dan menyenangkan, Namun kita tidak senang hidup bersama orang yang membuat kita merasa tidak nyaman. Kita tak mau dekat dekat dengan orang yang membuat kita merasa kesal, report, risih, takut, malu dan rugi, lantaran orang-orang seperti itu akan mengusik zona kenyamanan kita, merusak suasana hati kita.

Seperti kisah pemuda prajurit di atas. Dari percakapan telepon itu bisa diukur sedalam apa cinta yang dimiliki oleh sepasang orangtuanya. Mereka hanya mau mencintai dan menerima jika “teman” putera mereka tak bakal merepotkan. Tanpa sadar bahwa sang teman adalah putera mereka sendiri. Kedua orang tua itu tidak mencintai dengan tulus, melainkan dengan syarat. Mereka telah gagal dalam ujian keikhlasan.

Sukses dan cinta tanpa syarat

Untuk bisa sukses, kita harus diuji. Bukan sukses namanya kalau tak satu pun cobaan kita lewati. Dan cobaan yang datang tak selalu dalam bentuk fisik, yang mengharuskan kita berjuang dan berkorban waktu, tenaga dan pikiran. Cobaan yang datang juga menguji kekuatan mental dan hati. Punyakah kita hati dan penerimaan yang tulus, cinta yang tanpa pamrih manakala segala sesuatu terjadi di luar harapan? Manakala kita gagal, atau saat orang terdekat gagal sehingga menghambat lompatan kita menuju sukses.

Dalam sebuah tayangan televisi, seorang ayah telah kehilangan banyak, baik harta maupun nama baik, gara-gara kedua anaknya kecanduan narkoba. Sebagai ayah yang sibuk bekerja, sebenarnya ia tak perlu repot-repot dengan hal ini. Ia tinggal melempar saja kedua anaknya ke panti rehabilitasi, dan semuanya akan beres. Namun, sang ayah mencintai kedua anaknya, tak peduli mereka telah menggadaikan hampir semua hartanya dan mencoreng nama baiknya. Ia memilih untuk berjuang mendidik sendiri mereka, sampai sembuh dan kembali normal, meski itu butuh waktu yang sangat panjang. Pria itu ayah yang sukses.

Siapapun adanya kita, bekerja di mana, berbisnis apa, berprofesi apa, untuk sukses, “cinta tanpa syarat” adalah salah satu modal utama.

Sebagai pimpinan sebuah perusahaan maupun usaha, sukses tidak hanya terletak pada seberapa besar kemajuan usaha didapat dari hasil kerja keras kita. Tapi juga pada seberapa besar kita berhasil membuat para karyawan produktif dan bahagia. Pimpinan yang baik adalah yang memberi cinta tanpa syarat, baik pada pekerjaan maupun karyawannya. Meski tuntutan pekerjaan begitu berat, ia tetap mencintai dan melaksanakan dengan baik. Sebuah tugas tak harus menyenangkan untk diselesaikan dengan cemerlang. Juga meski para karyawan malas dan gemar menuntut, tetap diperlakukan dengan bijak. Jika staf malas, diberi motivasi, misalnya diberi pelatihan untuk mendorong semangat dan produktifitasnya.

Untuk menjadi sukses tidak perlu menghapal segudang teori, cukup mencoba resep yang sederhana: Jadilah manusia yang penuh cinta. Cinta tanpa syarat.

Jadilah orang yang sukses karena mengedepankan ketulusan hati.

Insya Allah kita bisa membangun bisnis MRC & MA bersama-sama dengan fondasi kuat agar sukses yang sustainable/langgeng/berkelanjutan. Amiin.