Home Articles SEMUT LAWAN GAJAH

SEMUT LAWAN GAJAH

Kekhawatiran pemain franchise lokal sekarang adalah semakin longgarnya perijinan bagi franchise dari luar negeri baik dengan merek-merek yang sudah mendunia maupun merek-merek yang kuat di negaranya masing-masing yang saat ini sudah mulai tumbuh menjamur di kota-kota besar di Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi ancaman tersendiri bagi pemain franchise lokal, karena mau tidak mau harus berebut pasar di Indonesia yang tipe konsumennya bangga dengan produk asing.

 

Hal ini juga yang dialami oleh Amazy sebagai jaringan franchise lokal. Di beberapa daerah yang sebelumnya dibuka outlet Amazy, sekarang muncul gerai restoran cepat saji kelas skala global. Sebagai contoh di kota Cirebon, Jawa Barat. Pada Desember 2009 lalu, gerai Amazy dibuka di Jl. Kartini Cirebon, yang merupakan jalan paling strategis di kota itu, dengan lokasi sekitar 500 m dari lokasi Mall Grage yang sudah ada gerai restoran cepat saji skala global. Amazy membuka gerai di ruko ukuran 3,5m x 20 m. Sejak dibuka, respon masyarakat sangat baik karena didukung juga oleh komunitas alumni SMU 2 (Smanda) selain juga karena produknya sangat diminati oleh masyarakat karena kualitas produk Amazy bisa diandalkan sehingga omzet penjualannya meningkat dari bulan ke bulan, dengan penjualan tertinggi mencapai 130 juta sebulan, sebuah angka penjualan yang cukup fantastis karena harga jualnya yang tidak terlalu tinggi, berarti kuantitas produk yang dijual sangat banyak.
Rupanya perkembangan ini dipantau oleh merek besar, hingga pada awal tahun 2011 dibukalah gerai restoran cepat saji dengan bangunan yang besar dan fasilitas lebih lengkap dengan jarak hanya sktr 200m dari gerai Amazy. Kondisi ini sangatlah timpang, di satu sisi restoran cepat saji skala global tadi menempati lokasi sebuah bangunan yang sangat besar dengan berbagai fasilitas lengkap berhadapan dengan gerai franchise lokal dengan lokasi sebuah ruko yang kecil. Sehingga kalau dibandingkan seperti gajah melawan semut. Tidak itu saja, setelah berjalan 5 bulan dari dibukanya gerai restoran cepat saji asing tadi, muncul 1 lagi gerai restoran asing lainnya yang tak kalah besar dan tak kalah lengkapnya, dengan jarak hanya sekitar 100m dari gerai Amazy. Jadilah Amazy seperti semut berhadapan dengan 2 gajah sekaligus.
Pengalaman tadi bukan hanya terjadi di kota Cirebon, tapi juga terjadi di store Amazy di kota lain yaitu di kota Sangatta, Kalimantan Timur. Gerai Amazy yang dibukan pada Februari 2008 lalu menjadi icon baru di kota tersebut sehingga merek dan produk Amazy sangat dikenal oleh masyarakat Sangatta. Gerai Amazy menempati lokasi di salah satu pusat perbelanjaan di kota tersebut yang merupakan pusat perbelanjaan satu-satunya dengan bermacam fasilitas. Omzet Amazy di kota ini bisa mencapai angka 300 juta sebulan. Sebuah angka penjualan yang ternyata mengundang pemain besar untuk datang ke kota ini. Hingga akhirnya pada bulan Agustus 2011 lalu, store Amazy digeser oleh restoran cepat saji skala global, hal ini dikarenakan store Amazy hanya menyewa ruangan ke pemilik gedung, sehingga pada saat masa sewa habis, pemilik gedung lebih memilih menyewakan kepada pemain besar karena mampu membayar sewa lebih mahal.
Hal seperti inilah yang menjadi tantangan tersendiri buat Amazy sebagai sebuah jaringan franchise lokal yang harus berjuang sendiri melawan serbuan jaringan restoran cepat saji skala internasional. Mungkin pengalaman ini juga akan dialami oleh gerai-gerai Amazy yang mempunyai kinerja yang sangat baik, karena pemain asing akan terus berusaha mengembankan jaringannya ke seluruh wilayah di Indonesia.  Belum lagi tantangan dari birokrasi pemerintah dalam pengurusan perijinan dan lain-lain yang dirasa memberatkan bagi pengusaha lokal.
Tapi hal ini tidak menjadikan Amazy surut langkahnya untuk terus maju membangun negeri dengan berbagai upaya untuk terus berkembang. Karena Amazy mempunyai visi menjadi produk pilihan konsumen karena kualitas dan rasa serta menjadi jaringan wirausaha mandiri berprestasi.